|
Judul
|
Analisis penerapan
sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 menggunakan gap analysis tools pada PT.
Sahabat Rubber Industries, Malang.
|
|
Jurnal
|
Rekayasa dan
Manajemen Sistem Industri
|
|
Volume & Halaman
|
Vol. 3 No. 1, Hal.
12-21
|
|
Tahun
|
-
|
|
Penulis
|
1. Aditya Twin Prakasa
2. Nasir Widha Setyanto
3. L. Tri Wijaya Nata Kusuma
|
|
Reviewer
|
Aldhy Filqodri Ramadhan (3C414863)
|
|
Tanggal
|
16 Oktober 2017
|
|
Tujuan Penelitian
|
Menganalisis tingkat
penerapan sistem manajemen mutu pada perusahaan dengan menggunakan metode gap
analysis tools
|
|
Subjek Penelitian
|
Pihak-pihak di
perusahaan yang memiliki kompetensi dengan penelitian yang dilakukan dan
sistem kendali mutu.
|
|
Metode penelitian
|
Metode yang
digunakan adalah metode deskriptif. Metode deskriptif digunakan untuk
menggambarkan sesuatu keadaan yang terjadi pada saat sekarang. Metode
deskriptif juga merupakan suatu studi untuk melakukan perbaikan terhadap
kondisi saat ini yang dirasa perlu untuk dilakukan perbaikan.
|
|
Alasan dilakukan
penelitian ini
|
Terdapat banyak
Kendala dalam penerapan ISO 9001:2008 di PT. Sahabat Rubber Industries dan ketidaksesuaian
penerapan ISO 9001:2008 pada PT. Sahabat Rubber Industries menggunakan
checklist yang didasarkan atas persyaratan ISO 9001:2008
|
|
Variabel Dependen
|
Variabel dependen
dari penelitian ini adalah penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 dan
sistem kendali mutu yang belum dijalankan dengan baik.
|
|
Variabel Independen
|
Variabel independen
dari penelitian ini adalah kurangnya kontrol dari manajemen representative
dan keterbatasan peralatan, sehingga kendala-kendala seperti kurangnya
komitmen manajemen, kurangnya sosialisasi penerapan sistem manajemen mutu,
kurangnya ketelitian dalam perbaikan dokumen, dan kurangnya komunikasi antar
departemen maupun karyawan.
|
|
Hasil penelitian
|
Dari hasil analisis gap
analysis checklist dapat disimpulkan bahwa pelaksanaaan sistem manajemen
mutu ISO 9001:2008 di perusahaan belum baik. Dari perhitungan presentase yang
telah dilakukan dapat dilihat bahwa range penerapan berada pada kisaran
66%-92%. Kendala yang dihadapi perusahaan dalam menjalankan sistem manajemen
mutu ISO 9001:2008 ini pada klausal 4 adalah kurangnya kontrol MR dan
keterbatasan peralatan, klausal 5 adalah kurangnya komitmen manajemen,
kurangnya sosialisasi penerapan sistem manajemen mutu, kurangnya ketelitian
dalam perbaikan dokumen dan kurangnya komunikasi antar departemen maupun
karyawan, klausal 6 adalah keterbatasan waktu dan kurangnya pemahaman
karyawan dalam melakukan penilaian kompetensi karyawan serta keterbatasan
peralatan, klausal 7 adalah koordinasi antar sub departemen buruk, kurangnya
pemahaman, keterbatasan waktu dan kurangnya ketelitian dan klausal 8 adalah
kurangnya kontrol dari MR, kurangnya pemahaman dan belum dibentuknya tim
audit internal perusahaan.
|
|
Kelebihan
|
Kelebihan dalam
penelitian ini adalah penelitian ini menggunakan metode deskriptif sehingga
pada penelitian dijelaskan apa saja kendala-kendala yang ada pada perusahaan
dan bagaimana cara penyelesaian atau perbaikan yang harus dilakukan oleh
perusahaan tersebut sehingga perusahaan dapat menerapkan sistem manajemen
mutu sesuai persyaratan ISO 9001:2008 yang diterapkan.
|
|
Kekurangan
|
Kekurangan
penelitian ini adalah salah satu teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara,
sehingga dalam prosesnya membutuhkan waktu yang relatif lebih lama.
|
Minggu, 15 Oktober 2017
Review Jurnal Rekayasa dan Manajemen Sistem Industri ( Sistem Manajemen Mutu)
Rabu, 15 Maret 2017
MRP
Pengertian MRP (Material Requirements Planning)
Perencanaan kebutuhan material (MRP) dapat didefinisikan sebagai suatu teknik atau prosedur yang sistematis untuk menentukan kuantitas serta waktu dalam proses perencanaan dan pengendalian item barang (komponen) yang tergantung pada item–item tingkat (level) yang lebih tinggi (dependent demand). Ada 4 kemampuan yang menjadi ciri utama dari sistem MRP yaitu:
- Mampu menentukan kebutuhan pada saat yang tepat.
- Membentuk kebutuhan minimal untuk setiap item.
- Menentukan pelaksanaan rencana pemesanan.
- Menentukan penjadwalan ulang atau pembatalan atas suatu jadwal yang sudah direncanakan.
Sejarah MRP
Sebelum MRP ada dan sebelum komputer digunakan industri, metode reorder point/reorder quantity jenis (ROP / ROQ) seperti EOQ (Economic Order Quantity) telah digunakan dalam manufaktur dan manajemen persediaan. Pada tahun 1964, Joseph Orlicky sebagai respon terhadap program manufaktur Toyota, mengembangkan material perencanaan kebutuhan (MRP). Perusahaan pertama yang menggunakan MRP adalah Black & Decker pada tahun 1964, dengan Dick Alban sebagai pemimpin proyek. Oliver Wight ikut berjasa mengembangkan MRP ke perencanaan sumber daya manufaktur (MRP II). Pada tahun 1975 MRP dilaksanakan di 150 perusahaan. Jumlah ini telah tumbuh secara pesat menjadi sekitar 8.000 pada tahun 1981.
Ruang Lingkup MRP
Fungsi sistem MRP meliputi pengendalian persediaan, tagihan pengolahan material dan penjadwalan dasar. MRP membantu organisasi untuk mempertahankan tingkat persediaan rendah (optimal). Hal ini digunakan untuk merencanakan manufaktur, pembelian dan memberikan kegiatan.
Suatu perusahaan yang memproduksi barang, apapun produk mereka, akan menghadapi masalah praktis yang sama sehari-hari bahwa pelanggan menginginkan produk akan tersedia dalam waktu yang lebih singkat dari yang dibutuhkan untuk membuat mereka ini berarti bahwa beberapa tingkat perencanaan diperlukan.
Perusahaan perlu untuk mengontrol jenis dan jumlah bahan yang mereka beli, merencanakan produk mana yang akan diproduksi dan jumlah barang yang harus diproduksi serta memastikan bahwa mereka mampu memenuhi permintaan pelanggan saat ini dan masa depan, semua dengan biaya serendah mungkin. Membuat keputusan yang buruk dalam bidang ini akan membuat perusahaan kehilangan uang seperti pada beberapa contoh masalah sebagai berikut:
- Jika sebuah perusahaan membeli barang dalam jumlah cukup dari item yang digunakan dalam suatu proses produksi (manufaktur) tetapi terdapat beberapa barang yang rusak, perusahaan mungkin tidak dapat memenuhi kewajiban kontrak untuk memasok produk tepat waktu.
- Jika sebuah perusahaan membeli barang dalam jumlah banyak, sehingga melebihi item barang yang dibutuhkan dalam suatu proses produksi (manufaktur), uang tunai yang dipakai untuk membeli barang tersebut mungkin dapat dipakai untuk keperluan lain dan barang yang dipakai sebagai stok bahkan mungkin tidak pernah digunakan sama sekali.
- Penentuan waktu awal produksi pesanan yang salah dapat menyebabkan batas waktu maksimal yang diharapkan pelanggan terlewatkan yang mengakibatkan kekecewaan pada pelanggan.
Dengan adanya MRP diharapkan permasalahan-permasalahan klasik seperti pada contoh tersebut dapat diatasi. Selain berbagai permasalahan tersebut MRP juga menyediakan jawaban untuk beberapa pertanyaan mendasar yaitu:
- Apa saja barang yang dibutuhkan?
- Berapa banyak barang yang dibutuhkan?
- Kapan barang tersebut dibutuhkan?
MRP dapat diterapkan baik untuk item yang dibeli dari pemasok luar dan sub rakitan, diproduksi secara internal, yang merupakan komponen dari barang-barang yang lebih kompleks.
Elemen MRP
Tujuan MRP adalah menentukan kebutuhan dan jadwal untuk pembuatan komponen-komponen sub asembling atau pembelian material untuk memenuhi kebutuhan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh MPS. Jadi MRP menggunakan MPS untuk memproyeksi kebutuhan akan jenis-jenis komponen (component parts).
Elemen-elemen MRP meliputi:
- Penjadwalan Induk (Master scheduling) Bertujuan untuk menentukan output fungsi operasi.
- Bagan Bahan (Bill of Material) Bahan-bahan apa saja dan berapa komposisi untuk suatu produk.
- Catatan Persediaan (Inventory Record) Catatan dari akumulasi transaksi sediaan yang terjadi di perusahaan atau pabrik.
- Perencanaan Kapasitas (Capacity Planning) Suatu cara membuat perencanaan kapasitas, yaitu :
- Rough Cut Capacity Planning, perencanaan kapasitas pemotongan kasar yang lebih sedikit melakukan kalkulasi.
- Shop Loading, perencanaan yang lebih akurat dari pada Rough Cut Capacity Planning.
- Pembelian (Purchasing) Diperluas fungsinya tidak hanya sekedar membeli, tetapi termasuk juga membangun kepercayaan pemasok.
- Pengendalian Pengelola Bengkel (Shop-floor Control) Bertugas untuk mengendalikan aliran bahan dengan memperhatikan lead time yang ada. Jangan sampai terjadi penumpukan akibat tidak lancarnya aliran bahan.
Proses MRP
Sistem MRP memerlukan syarat pendahuluan dan asumsi-asumsi yang harus dipenuhi. Bila syarat pendahuluan dan asumsi-asumsi tersebut telah dipenuhi, maka kita bisa mengolah MRP dengan empat langkah dasar sebagai berikut :
- Netting (penghitungan kebutuhan bersih). Kebutuhan bersih (NR) dihitung sebagai nilai dari kebutuhan kotor (GR) minus jadwal penerimaan (SR) minus persediaan ditangan (OH kebutuhan besih dianggap nol bila NR lebih kecil dari atau sama dengan nol.
- Lotting (penentuan ukuran lot). Langkah ini bertujuan menentukan besarnya pesanan individu yang optimal berdasarkan hasil dari perhitungan kebutuhan bersih. Metode yang umum dipakai dalam prakteknya adalah Lot-for Lot (L-4-L).
Arus Informasi Sistem MRP
- Master Production Schedule (MPS)
MPS merupakan ringkasan skedul produksi produk jadi untuk periode mendatang yang dirancang berdasarkan pesanan pelanggan atau ramalan permintaan. System MRP mengasumsikan bahwa pesanan yang dicatat dalam MPS adalah pasti, kendatipun hanya merupakan ramalan.
- Bill Of Material (BOM)
BOM merupakan rangkaian struktur semua komponen yang digunakan untuk memproduksi barang jadi sesuai dengan MPS. Secara spesifik struktur BOM tidak saja berisi komposisi komponen, tetapi juga memuat langkah penyeledaian produk jadi. Tanpa adanya struktur BOM sangat mustahil untuk dapat melaksanakan system MRP.
- Infentory Master File (IMF)
Terdiri dari semua catatan tentang persediaan produk jadi, komponen dan sub-komponen lainnya, baik yang sedang dipesan maupun persediaan pengaman.
Faktor Kesulitan Dalam MRP
Terdapat lima faktor yang mempengaruhi tingkat kesulitan dalam proses MRP yaitu:
1. Struktur Produk
Semakin rumit struktur produk, akan membuat perhitungan MRP semakin rumit pula. Struktur produk yang komleks terutama kearah vertikal, akan membuat proses penentuan kebutuhan bersih, penentuan jumlah pesanan optimal, penentuan saat yang tepat melakukan pasanan, dan penentuan kebutuhan kotor menjadi berulang-ulang.
2. Ukuran Lot
Jika dilihat dari cara pendekatan masalah, terdapat dua aliran dalam penentuan ukuran lot yaitu, pendekatan periode dan level by level
3. Tenggang Waktu
Perbedaan dalam tenggang waktu akan menambah kerumitan dalam proses MRP. Oleh karena itu kita dihadapkan pada masalah penentuan saat paling awal dan saat paling lambat suatu komponen harus selesai atau disebut dengan lintasan kritis.
4. Perubahan Kebutuhan
MRP dirancang untuk menjadi suatu sistem yang peka terhadap perubahan baik perubahan dari luar maupun perubahan dari dalam (kapasitas). Kepekaan ini bukanlah tidak menimbulkan masalah, perubahan kebutuhan produk akhir tidak hanya mempengaruhi rencana pemesanan, tetapi juga mempengaruhi jumlah kebutuhan yang diinginkan.
5. Komponen Yang Bersifat Umum (Communality)
Adanya komponen yang bersifat umum (dibutuhkan lebih dari satu induk item) akan menimbulkan kesulitan apabila komponen umum tersebut berada pada level yang berbeda. Diperlukan tingkat ketelitian yang tinggi, baik dalam jumlah maupun waktu pelaksanaan pemesanan.
Kemampuan Sistem RMP
Ada empat kemampuan yang menjadi ciri utama dari sistem MRP yaitu:
1. Mampu menentukan kebutuhan pada saat yang tepat.
Maksudnya adalah menentukan secara tepat “kapan” suatu pekerjaan harus diselesaikan atau “kapan” material harus tersedia untuk memenuhi permintaan atas produk akhir yang sudah direncanakan pada jadwal induk produksi.
2. Membentuk kebutuhan minimal untuk setiap item.
Dengan diketahuinya kebutuhan akan produk jadi, MRP dapat menentukan secara tepat sistem penjadwalan (berdasarkan prioritas) untuk memenuhi semua kebutuhan minimal setiap item komponen.
3. Menentukan pelaksanaan rencana pemesanan.
Maksudnya adalah memberikan indikasi kapan pemesanan atau pembatalan terhadap pesanan harus dilakukan, baik pemesanan yang diperoleh dari luar atau dibuat sendiri.
4. Mentukan penjadwalan ulang atau pembatalan atas suatu jadwal yang sudah direncanakan.
Apabila kapasitas yang ada tidak mampu memenuhi pesanan yang dijadwalkan pada waktu yang diinginkan, maka MRP dapat memberikan indikasi untuk melakukan rencana penjadwalan ulang dengan menentukan prioritas pesanan yang realistis.
Selasa, 17 Januari 2017
Optimalisasi Sistem Lingkungan Hidup Terpadu oleh Industri Tekstil
LAPORAN PENELITIAN
OPTIMALISASI SISTEM
PENGOLAHAN LINGKUNGAN HIDUP TERPADU OLEH INDUSTRI TEKSTIL

Disusun Oleh:
Nama (NPM) :
Aldhy Filqodri / 3C 414
863
Kelas : 3ID07
Dosen : Syariffudin
Nasution
JURUSAN
TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS
TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
DEPOK
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kemajuan suatu zaman tidak lepas dari majunya zaman
yang telah mencapai tahap yang telah dewasa. Kemajuan suatu zaman tidak
terlepas dari keinginan manusia yang tidak ada habisnya dan Indonesia sebagai
Negara Berkembang harus mampu mengikuti perkembangan zaman tersebut agar tidak
kalah bersaing dan mampu menjadi lebih baik dari pada Negara Kompetitor
lainnya. Berbagai hal tentu dikembangkan dengan tujuan memperbaiki beberapa
kendala yang sebelumnya telah dihadapi pada masa lalu. Berbagai spekulasi
muncul untuk menghasilkan perbaikan dengan cara mencari jalur yang efektif dan
menciptakan efisiensi terhadap berbagai hal.
Keinginan
memang besarr, namun juga harus memikirkan dampak apa yang akan dihadapi dari
keinginan tersebut. Dempak negative terhadap suatu usaha adalah hal yang patut
dijauhi dan diwaspadai dikarenakan untuk mencapai harapan menjadi Negara maju.
Indonesia wajib memiliki berbagai alternative jika menghadapi kendala. Salah
satu hal yang menjadi sorotan tentunya limbah hasil pabrik di berbagai Industri
dan tentunya terutama adalah Industri Tekstil.
Industri Tekstil adalah Industri yang cukup banyak
peminatnya dan terus berevolusi menjadi lebih baik. Tetapi, apakah output dari proses produksi pada
Industri Tekstil telah menjadi lebih baik atau tidak pasti akan menjadi
pertanyaan pada benak pelaku Industri. Permasalahan tersebut tentu wajib
diselesaikan dan wajib mencari cara terbaik agar menjadi efektif dan optimal.
1.2 Perumusan Masalah
Perumusan
masalah merupakan masalah-masalah yang akan dibahas pada Laporan Penelitian
terhadap Optimalisasi Sistem Lingkungan Hidup Terpadu oleh
Industri Tekstil dengan Pengendalian Pencemaran dan Pemanfaatan Konsep Ekologi.
1.3 Pembatasan Masalah
Pembatasan
masalah merupakan batasan-batasan yang dimaksudkan untuk membatasi topik
permasalahan agar tidak menyimpang dari pokok bahasan. Berikut ini adalah
pembatasan masalah yang ada ialah tidak menjauh dari persoalan terhadap Pengendalian Pencemaran
dan Pemanfaatan Konsep Ekologi.
1.4 Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan merupakan hal-hal yang menjadi tujuan dalam penulisan Laporan
Penelitian terhadap Optimalisasi Sistem Lingkungan Hidup Terpadu oleh
Industri Tekstil. Tujuan
dari Laporan ini diantaranya sebagai berikut.
1. Mengetahui proses terpadu yang efektif dan baik
2. Mengetahui penerapan terhadap konsep ekologi tersebut
BAB II
LANDASAN
TEORI
A.
Pengertian
Limbah Cair
Berdasarkan Peraturan Daerah
Propinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2004 tentang baku mutu air limbah, yang
dimaksud dengan limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha dan atau kegiatan
yang berwujud cair yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan
kualitas lingkungan. Sedangkan menurut Sugiharto (1987) air limbah (waste
water) adalah kotoran dari masyarakat, rumah tangga dan juga yang berasal dari
industri, air tanah, air permukaan, serta buangan lainnya. Terdapat
beberapa macam limbah cair, yaitu:
a. Limbah cair organik
b. Limbah cair an organik dan gas.
B.
Klasifikasi Limbah
Cair
Limbah cair diklasifikasikan menjadi 4 kelompok
yaitu :
1.
Limbah cair domestic ( domestic
wastewater)
Yaitu
limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga, restoran, penginapan,
mall dan lain-lain.Contoh : air bekas cucian pakaian atau peralatan makan, air
bekas mandi, tinja, sisa makanan berwujud cair dll.
2.
Limbah cair industry (industrial
wastewater)
Yaitu
limbah cair hasil buangan industri.Contoh ; air sisa cucian daging, buah atau
sayur dari industry pengolahan makanan, air sisa pewarnaan pada industry
tekstil dll.
3.
Rembesan dan Luapan ( infiltration
and inflow )
Rembesan
yaitu : limbah cair yang berasal dari berbagai sumber saluran pembuangan yang
rusak, pecah atau bocor sehingga merembes ke dalam tanah.Luapan yaitu : limbah
cair yang meluap dari saluran pembuangan yang terbuka karena debitnya melebihi
daya tampungnya.Contoh : air buangan dari talang atap, AC, tempat parker,
halaman, bangunan industry/perdagangan, pertanian dan perkebunan dll.
4.
Air hujan
Air
hujan dikategorikan sebagai limbah apabila hujan terjadi pada daerah yang
tercemar udaranya oleh gas-gas sulfur maupunnitrogen sehingga ketika hujuan
turun, terjadilah hujan asam sebagai akibat terjadinya reaksi antara gas-gas
belerang dan nitrogen di udara dengan air hujan.Hujan asam pHnya rendah, berasa
masam, bersifat korosif dan kadang-kadang terasa gatal di kulit.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1
Studi Kasus
Pengelolaan lingkungan
hidup dalam perspektif historis, diawali dengan kesadaran akan masalah
lingkungan hidup pada tahun 1960. strategi pengelolaan lingkungan hidup yang
diterapkan didasarkan pada pendekatan daya dukung (carryingcapacityapproach).
pendekatan yang berbasiskan kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung
kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya ini ternyata sulit untuk
diterapkan, karena terbukti terus menurunnya kondisi lingkungan hidup.
Berdasarkan konsep
dasar, minimalisasi limbah cair industri tekstil adalah dimaksudkan untuk
mendapatkan jumlah atau volume limbah dengan konsentrasi dan beban pencemaran
yang minimal, upaya pencegahan pencemaran lingkungan hidup melalui pendekatan
peminimalan limbah, yakni dengan cara pengurangan limbah (recycling) pada
hakikatnya adalah manifestasi komitmen yang berwujud nyata mencegah gangguan
pencemaran lingkungan hidup dalam skala yang lebih besar dan mengancam
kehidupan masyarakat.
3.2
Solusi dan Analisis
1. Pengendalian Pencemaran Limbah
Industri Secara Terpadu
Pencemaran lingkungan hidup akibat buangan
limbah industri tekstil sebagaimana telah dikemukakan terdahulu, bahwa cepat
atau lambat mengganggu kehidupan masyarakat dan dapat menurunkan kualitas
lingkungan hidup secara berkesinambungan. Oleh karena itu, upaya pengendalian
pencemaran limbah industri tekstil ini secara terpadu diharapkan lebih membantu
efektivitas pengendaliannya. Konsep pencemaran pengendalian limbah industri
secara terpadu adalah merefleksikan keterpaduan beberapa hal fundamental
yang dipandang dapat mencegah pencemaran limbah industri.
Pendekatan terhadap
perlindungan lingkungan hidup selama ini menurut Otto Soemarwoto adalah apa
yang disebut dengan metode ujung pipa (end of pipe). Pendekatan ujung pipa
ini menguntungkan , tetapi perusahaan mengeluarkan biaya lebih untuknya sampai
mendapatkan keuntungan yang lebih sebagai hasilnya. Surutnya keinginan
kalangan industri untuk membangun fasilita pengolahan limbah dipabriknya
disebabkan karena besarnya biaya penyediaan fasilitas tersebut dan tentunya
akan mengurangi profit marginnya.
Teknologi dan produksi
bersih merupakan sebuah paradigma baru dalam melakukan pembangunan ekonomi
melalui industri. Dalam paradigma baru ini bukan hanya masalah pengolahan dan
pencegahan pencemaran limbah yang dipertimbangkan, tetapi sedini mungkin
langkah-langkah produksi, penerapan dan pengembangan teknologi didasarkan atas
upaya dalam meminimalisir limbah
Salah satu upaya dalam
mengendalikan pencemaran limbah industri tekstil yaitu dengan membuat instalasi
pengolahan air limbah sebagai langkah nyata industri untuk memperhatikan
keberadaan lingkungan hidup dari pemcemaran limbah. Selain itu pemakaian
bahan-bahan kimia harus kurangi.
Keterpaduan aspek
dalam pengendalian limbah industri tekstil, selain penerapan teknologi dan
produk bersih, dan pengolahan limbah adalah upaya minimasi (pengurangan) limbah
secara terpadu oleh perusahaan-perusahaan industri tekstil. Menurut Isminingsih
Gitoparmodjo dan Wiwin Winiati, peminimalan limbah ini dapat dilakukan terhadap
beberapa kegiatan kunci, antara lain:
1. Pengurangan
limbah (sourcereduction) melalui beberapa perubahan produk, pencegahan dan
perencanaan yang cermat.
2. Kontrol
bahan (sourcecontrol) terhadap perubahan input bahan, perubahan teknologi dan
pelaksanaan operasi yang baik.
3. Kontrol
terhadap kegiatan daur ulang (recycling) baik di dalam maupun di luar lokasi
industri, seperti pemanfaatan dan penggunaan kembali (useandreuse), dan
reklamasi (recovery) untuk mengembalikan bahan pembantu dari limbah.
Benar bahwa kegiatan
sektor industri tekstil tersebut pada satu sisi akan menghasilkan barang yang
bermanfaat bagi kesejahtraan hidup masyarakat, trtapi pada sisi lain kegiatan
sektor industri tekstil ini juga akan berdampak negatif pada lingkungan hidup.
2. Pemanfaatan Konsep
Ekologi Industri dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup
Persoalan lingkungan hidup dalam beberapa
decade terakhir ini menurut kajian kalangan teoretisi semakin meluas, mulai
dari polusi udara dan air, menuju pada masalah-masalah seperti penggundulan
hutan dan pengikisan lapisan tanah, penipisan lapisan ozon dan pemanasan
global. Fakta telah menunjukan bahwa tidak ada tempat di dunia yang tidak
tercemar dan tidak ada industry manapun yang dapat terbebas dari tanggung jawab
atas berbagai kerusakan lingkungan hidup yang terjadi.
Pencemaran atau perusakan lingkungan hidup
dalam perspektif global, secara factual hamper terjadi pada Negara di berbagai
belahan dunia. Deskirpsi terhadap kondisi realitas lingkungan hidup tersebut
tidak berlebihan, karena kasus pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup
akibat berbagai kegiatan industri termasuk yang terjadi di Indonesia.
Indikasinya masih banyak industri yang membuang limbah cairnya secara
sembarangan sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan hidup yang mengganggu
kehidupan masyarakat.
Komitmen perusahaan-perusahaan industri
tekstil untuk memanfaatkan konsep ekologi industri dalam pengelolaan lingkungan
hidupnya, merupakan upaya antisipatif menghadapi kemungkinan negatif yang mencuat
ke permukaan dan mengancam kelestarian fungsi lingkungan hidup. Pemanfaatan
konsep ekologi industri itu pada dasarnya adalah upaya mengurangi dampak-
dampak lingkungan suatu ekologi karena kegiatan industri. Bahkan konsep ini
beratribut sebagai suatu pendekatan yang mengintegrasikan aktivitas industry
dalam system ekologi.
BAB
IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Upaya dalam
mengendalikan pencemaran limbah industri tekstil yaitu dengan membuat instalasi
pengolahan air limbah sebagai langkah nyata industri untuk memperhatikan
keberadaan lingkungan hidup dari pemcemaran limbah. Selain itu pemakaian
bahan-bahan kimia harus kurangi. Pemanfaatan konsep
ekologi industri itu pada dasarnya adalah upaya mengurangi dampak- dampak
lingkungan suatu ekologi karena kegiatan industri. Bahkan konsep ini beratribut
sebagai suatu pendekatan yang mengintegrasikan aktivitas industry dalam system
ekologi.
4.2. Saran
Saran
diperlukan untuk perbaikan dalam
laporan penelitian agar lebih baik kedepannya. Berikut ialah saran
yang diberikan dalam laporan
penelitian diantaranya, Peneliti harus memerhatikan segala
aturan yang ada sehingga hasil yang didapat akan baik. Mengetahui dan mengerti konsep yang baik dalam mencari data terhadap
penelitian. Peneliti harus teliti pada saat menguraikan
elemen-elemen.
DAFTAR
PUSTAKA
Pratiwi,
Yuli. “Penentuan Tingkat Pencemaran Limbah Industri Tektil Berdasarkan
Nutricion Value Coeficient Bio Indikator”. 8 Januari 2017. http://jurtek.akprind.ac.id/sites/default/files/129_137_yul_pratiwii.pdf
Zang,
Dong. “Textile Resource Journal”. 9 Januari 2017. https://us.sagepub.com/en-us/nam/journal/textile-research-journal#description
Langganan:
Postingan (Atom)